ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU YANG UTUH - DEVATRA14

Thursday, March 15, 2018

ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU YANG UTUH




Metode ilmu mulai meninggalkan cara-cara atomasi subjeknya, yaitu yang bekerja dengan cara memecah-mecah, memisah-misah, menggolong-golongkan. dengan demikian, akhirnya dihasilkan ilmu sebagai suatu bangunan yang disusun dari batu yang satu ke batu (building blocks) yang lain di atasnya.Masing-masing batu itu merupakan identitas yang berdiri sendiri dan benar-benar terlepas dari batu lainnya juga sepenuhnya mandiri. Filsafat yang mendasari adalah Cartesian dan Newtonian.
Berpikir merupakan kategori tersendiri terlepas dan berhadapan dengan objek yang ditelaahnya, terjadi pemisahan antara mind dan matter. Pilihan memiliki otoritas penuh, bisa berbuat apa saja, terlepas dari sifat objeknya. Pikiranlah yang menentukan identitas dari objek yang dipelajarinya (mind determined the matter). dari sinilah, objek ilmu itu menjadi sasaran manipulasi pikiran yang secara bebasa menggarap objek tersebut, dalam hal ini dengan cara otomatis tersebut. Hal tersebut berlanjut pada Newton yang melihat dan menafsirkan alam secaramekanistis dan bekerja seperti mesin.

Perkembang ilmu sekarang tidak berpegang kepada filsafat yang demikian itu. kendati alam terbangun dari partikel-partikel, tetapi partikel itu tidak merupakan identitas yang mutlak mandiri. kediriannya ditentukan melalui proses interaksi dengan partikel-partikel lain sehingga penuh dengan ketidak pastian. Alam tidak statis melainkan dinamis. dengan demikian, kita tidak dapat mereduksi alam dan dunia ini ke dalam batu-batu (building blocks) yang mandiri. Cara yang lebih tepat untuk memahami dunia adalah dengan melihat sebagai satu keutuhan atau secara holistik. Keutuhan ini tidak dapat direduksi.

Cara-cara atomasi dan reduksi dalam studi hukum telah diuraikan, khususnya tentang rechtsdogmatiek atau juriprudence. Cara seperti itu hanya akan menemukan hukum sebagai skeleton, kerangka atau skema belaka dan tidak menemukan hukum dalam keutuhannya. Keutuhan tersebut ibaratnya menyatukan kerangka tersebut dengan darah, otot-otot dan daging dari hukum sehingga wujud hukum menjadi penuh. Kekurangan tersebut di atas membawa resiko yang tidak kecil, oleh karena dalam menjalankan hukum biasanya orang memilih jalan yang gampang, yaitu berbicara tentang batu-batu bangunan hukum, seperti undang-undang, prosedur, doktrin dan sebagainya.
kita sekarang menyaksikan praktek hukum yang seperti itu yang antara lain menyebabkan sulit bagi bangsan kita untuk bangun dari keterpurukan, apalagi berbicara tentang hukum untuk mensejahterakan bangsa.

Hukum yang direduksi itu tidak hanya tinggal kerangka dan tidak penuh lagi, melainkan juga kehilangan faktor makna. Benar-benar seperti dalam paham Newton yang mekanistik itu, di sini hukum tinggal menjadi sekumpulan peraturan yang dikutak-katik secara logis dan kehilangan perspektif maknanya. Kita juga bisa berbicara tentang bagaimana hukum kehilangan ruhnya, yaitu keadilan. Ini barangkali sam adengan membicarakan psikologi tetapi tanpa jiwa.

Sejak semula hukum adalah sesuatu yang utuh, yang menyatu dengan masyarakat serta manusia tempat hukum itu berada. Keutuhan ini juga menyangkut sifat kompleks sifat kompleks dan dinamis dari hukum, terutama apabila sudah bicara mengenai keadilan. Maka pada waktu kita ingin mempelajari hukum, kita perlu hati-hati dalam menggarapnya atau dalam penggunaan metode. Cara dan metode tersebut hendaknya tetap menjaga agar hukum bisa tampil secara penuh dan utuh serta tidak kehilangan nilai maknanya.


kalau hukum dilihat sebagai bangunan yang rasional, maka di sana-sini ia menunjukkan, maka di sana-sini ia menunjukkan bahwa pernyataan itu tidak seluruhnya benar, karena kita sering menyaksikan betapa hukum itu berada dalam disorde. Kita tidak perlu mengelak, sebab itu memang kenyataan. Dalam bidang ilmu apapun, kenyataan itu adalah kompleks mengandung banyak sekali ketidak pastian dan dinamis. Kenyataan adalah fluktuatif, yang dalam filsafat vTao Cina disebut sebagai suatu kuntinum antara yin dan yang. Ilmu hukumbaik juga untuk menyadari hal tersebut, setidaknya apabila ingin menjadi benar-benar ilmu.







Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Disqus comments